Menghindari Medioker

Bismillah

Inilah Saya yang diamanahi oleh Allah untuk lahir, bertahan, dan berusaha sukses dari keluarga terbaik yang saya miliki. Dari segi kondisi finansial, orang tuaku tidak high-class (tidak seperti kondisi saudaraku yang lainnya) memang Saya yang sama-sama manusia terkadang tidak pernah bersyukur atas apa yang diberikan oleh Allah kepada Saya. Selalu melihat rumput halaman rumah tetangga lebih hijau dari rumput halaman rumah sendiri.

Saya senang lahir dari keluarga seperti ini yang tidak terlalu gila harta sehingga melupakan kewajiban untuk mendidik anaknya. Ibu Saya menjadi sekolah pertama bagi Saya dan adik Saya dan selalu mengurus kami berdua. Ayah yang selalu menafkahi keluarga ini dengan apa yang Ayah bisa lakukan.

Tahun 2015, saat itu umurku 15 tahun, bocah yang mau menginjak bangku kelas IX. Ayah membeli buku Bisnis Online Milyaran (#BOM) karya Mas Fikry dan Bang Motty. Sejak saat itu, Saya selalu berguru bisnis online kepada mereka berdua. Terlebih kepada Mas Fikry karena saat ini Saya tidak tahu kemana perginya Bang Motty.

Di awal membaca buku itu, banyak sekali istilah dari bisnis dan teknis di online yang membuat kepala Saya rasa-rasanya bilang "Ieu teh naon? (Ini apa sih?)". Tapi Saya mencoba untuk terus memahami istilah-istilah itu yang mungkin harus membiasakannya dan juga melatihnya.

Awal merasakan penghasilan dari jualan online adalah ketika pembukaan pre-order jaket pertama kalinya bermodalkan layanan gratisan dan sistem yang masih sangat manual. Saat itu sedang masa-masanya UN SMP. Jadi mungkin yang lain hanya mikirin bahan ujian, nah kalau saya double yaitu mikirin bahan ujian dan jualan online.

Hasil akibat ketidak fokusan itu membuat nilai UN saya tidak enak untuk dilihat, apalagi untuk salah satu mata pelajaran. Pokoknya kalau lihat itu enggak enak deh, pengen rasanya bilang "Ieu teh bener nilai urang? (Ini beneran nilai saya?)"

Toh, nantinya nilai-nilai UN yang saya dapatkan tidak akan terlalu ditanyakan ketika melamar pekerjaan atau mulai bisnis online. Walau emang rada malu kalau ada yang nanya "nilai pelajaran ***** kamu berapa San?". Ngasih tahu nilainya sih biasa aja, datar gitu, tapi Saya kadang enggak enak nanti pikiran mereka ke Saya kurang bagus. Jadinya mereka takut mikir yang negatif mulu ke Saya kalau ngebahas tentang mata pelajaran yang nilainya kurang itu.
***

Kembali ke bisnis online.

Setelah beres dari SMP Swasta, saya melanjutkan ke SMA Swasta dengan beasiswa oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Hatur nuhun pisan (terima kasih banyak).

Oh iya, dari Madrasah Ibtidaiyyah (Sekolah Dasar) sampai SMA, Saya selalu di sekolah Swasta. Entah kenapa saya harus menginformasikan ini, sepertinya penting untuk Anda atau pembaca lainnya.

Di SMA, Saya mulai memberanikan diri lagi untuk jualan walau offline, karena waktu itu SMA + Pesantren sehingga sedikit menyulitkan saya untuk berjualan online. Jualan waktu itu tidak jaket lagi karena satu dan lain hal, pertama kali saya jualan buku-buku Islami karya dari Ust. Felix. Dan alhamdulillah diterima dengan baik oleh pasar karena SMA tersebut berbasiskan Islam.

Harus Saya katakan bahwa jualan itu tidak semudah yang kelihatannya, Saya harus beritahu ini kepada pembaca terutama Anda yang sedang atau akan berjualan. Yang paling gak enak sih ditolak sama calon pembeli, itu rasanya satu level di bawah ditolak sama calon pendamping hidup. Apalagi kalau nawarin buku dagangan ke calon pendamping, terus ditolak, itulah 2x lipat rasa gak enaknya.

Tapi yang penting jangan sampai ditolak sama Allah aja.

Sebelum Saya meninggalkan SMA karena selesai sekolah di sana. Saya coba mengamanahi penjualan buku di SMA tersebut kepada teman saya Naufal Akmal yang sekarang masih aktif berjualan di SMA itu. Setelah Saya selesai sekolah di sana, pelanggan Saya dulu ketika Saya berjualan di SMA itu beli lagi dari Naufal.

Sekarang setelah Saya selesai dari bangku sekolah SMA, sambil menunggu pengumuman SBMPTN dan UMPTKIN semenjak selesainya dua ujian tersebut (plus nunggu SM UPI). Saya mencoba untuk bener-bener terjun ke bisnis online, mulai membangun apa yang bisnis online lainnya lakukan. Walau masih jadi single fighter. Entah apa yang dilakukan oleh orang lain di sana setelah selesai dari bangku SMAnya. Saya melihat kebanyakan mereka seperti kaum medioker lainnya yang biasa-biasa saja, nganggung-nganggur ga jelas, ngabis-ngabisin kuota, tidur-tidur berlebihan, antara ada dan tiada, seperti itulah gambaran kaum medioker.

Saya sendiri tidak mau termasuk kaum tersebut, Saya tidak menginginkan medioker kondisi finansial keluarga Saya yang sekarang dan yang nanti (setelah menikah). Tentu Anda juga menginginkan hal yang sama.

Saya tidak ingin meninggal dengan keadaan suu'ul khootimah apalagi bersisa hutang kepada orang lain yang bisa-bisa menyebabkan keluarga yang Saya tinggalkan malah terbebani karena meninggalnya Saya. Na'udzuubillah.

Saya tidak pernah mendengar orang sukses yang melakukan hal yang medioker.
Mereka lebih memilih risiko yang tidak pernah terpikirkan oleh kaum medioker.

Komentar